Kali ini aku akan bercerita tentang cerita orang-orang yang memberikan aku sebuah pelajaran hidup yang sangat berarti.
Suatu ketika, disaat aku mengantarkan ibu cek kesehatannya di sebuah Rumah Sakit Pemerintah di suatu daerah. Menjadi rutinitasku tiap bulan mengantarkan ibu untuk cek kesehatan, karena aku merasa tak tega membiarkan ibuku berada di luar rumah sendirian tanpa yang menemani. Saat di Rumah Sakit itu seperti biasanya banyak sekali orang tua yang seumuran dengan ibu yang juga berobat. Mereka saling bercerita pengalaman masing-masing, bercanda, menceritakan keluh-kesahnya, baik masalah keluarga hingga masalah kesehatannya. Suatu hari ibu berbincang-bincang dengan seorang ibu-ibu, usianya ga jauh beda dengan ibu, namanya Bu Siti Islamiyati. Sungguh cantik namanya, secantik orangnya. Ibu Siti bercerita bahwa dia baru saja ditinggal oleh suaminya. Ya, dia baru saja kehilangan separuh jiwanya yang selama ini menemaninya. Suami Ibu Siti bernama Bpk Imam, sama seperti nama ayahku. (Alm) Bpk Imam meninggal dikarenakan komplikasi penyakit Diabetes Mlitus, dan Ginjal. Beliau sudah dirawat lama sekali di Rumah Sakit Pemerintah di Surabaya, lalu dirawat lagi selama 20 hari di Rumah Sakit Pemerintah di Sidoarjo. Selama beliau sakit, hanya istrinya seorang yang selalu merawatnya. Bahkan, tak lupa mengurus anak-anaknya di rumah. Jadi Ibu Siti bisa dibilang bolak-balik RS-Rumah. Beliau sangat berbakti pada suaminya. Menaati segala perintah suaminya, beliau juga sayang sekali dengan suaminya, menerima segala kondisi yang ada. Di tengah musibah sakit, terkadang pasangan suami istri itu sering juga bercanda. Mereka menganggap semuanya adalah ujian yang harus mereka selesaikan. Hingga pada akhir hayat (Alm) Bpk Imam, Ibu Siti tetap setia pada suaminya. Disaat beliau meninggal, Ibu Siti selalu ada di sampingnya. Bahkan, saat sudah meninggal pun, Ibu Siti senantiasa berdoa untuk suami tercinta, setiap hari bahkan. Terkadang, Ibu Siti datang langsung berziarah di makam suami tercintanya. Ibu Siti menganggap bahwa, meskipun raga suaminya terpisah, namun jiwa mereka tetap bersatu. Terkadang, manusiawi juga Ibu Siti saat di rumah sendiri mengingat setiap kenangan bersama suaminya, sehingga dia-pun menangis. Sungguh, romantis sekali. Seorang istri yang mengabdi pada suaminya hingga akhir hayatnya.Menerima suaminya dalam keadaan apapun.
Masih di tempat yang sama, saat ibu menjalani Test Darah di Laboratorium. Kali ini aku yang mendapatkan kisah dari seorang ibu, bernama Ibu Anggraini. Bu Anggraini adalah sosok ibu yang bisa dibilang ibu-ibu gaul. Beliau sangat ekspresif apabila bercerita, sehingga tidak membuat bosan orang yang ada di sekitarnya. Bu Anggraini orangnya juga sangat mengasikkkan bagiku. Beliau juga seorang janda, dengan 3 orang anak yang sholeh-sholehah. Bu Anggraini ditinggal pergi oleh suaminya saat mereka berdua menjalani ibadah haji pada tahun 2004. Suami Bu Anggraini yang bernama (Alm) Bpk Yos meninggal saat mereka menjalani ibadah lempar jumroh. Diceritakan saat itu, karena saking banyaknya jamaah haji, sehingga pada saat lempar jumroh sangat penuh sekali. Berisi ribuan, bahkan jutaan kaum muslim datang untuk memenuhi panggilan Allah menjalankan Ibadah Haji. Kala itu, Suami Bu Anggraini disaat pertemuan terakhir dengan istrinya berpesan "Ma, kita harus segera menyelesaikan ibadah lempar jumroh ini, meskipun saya mati disini, Saya rela ma", kata (Alm)Bpk Yos. "Iya pah, kita sudah niat, jika memang takdir Allah kita harus mati disini. Saya ikhlas pah", ujar Bu Anggraini. Disaat melakukan lempar jumroh, mereka saling melindungi satu sama lain. Disaat Bu Anggraini melakukan lempar jumroh, suaminya memeluknya dari belakang, begitupun sebaliknya. Saling melindungi satu sama lain. Giliran (Alm) Bpk Yos melakukan lempar jumroh, tiba-tiba serbuan umat dari berbagai negara tak henti-hentinya berdesak-desakan. Sehingga saling menghimpit satu sama lain, dan akhirnya banyak yang jatu, dan terinjak-injak. Saat itu pelukan Bu Anggraini dan suaminya terlepas. Bu Anggraini terlempar hingga 2 meter dari suaminya. Dia tertumpuk oleh banyak mayat-mayat yang sudah terinjak. Karena kuasa Allah, bagian kepala Bu Anggraini tidak ikut tertindih, jadi masih dapat bernapas, meskipun sesak sekali. Saat polisi militer datang mengambil banyak mayat tersebut, Bu Anggraini pun merasa kesusahan, karena beliau tertumpuk banyak mayat. Beliau tidak dapat berbuat banyak, selain pasrah, dan banyak berdoa. Saat polisi militer melintas dia atas kepalanya, Bu Anggraini mencubit kaki polisi itu. Dan, akhirnya polisi itu menyadari bahwa masih ada korban selamat. Dari ribuan korban yang meninggal, hanya ada dua korban selamat, dan juga berasal dari Indonesia. Saat di penampungan Bu Anggraini terus memikirkan nasib suaminya seperti apa, Beliau hanya bisa banyak berdoa dan berharap keajaiban datang. Bisa dikatakn, Bu Anggraini saat itu seperti orang yang agak gila, kerena banyak memikirkan nasib suaminya seperti apa. Hingga, Bpk Menteri Agama, Menteri Keuangan datang menjenguk Bu Anggraini. Bapak pejabat itu pun memberikan pelayanan istimewa pada rakyatnya. Setiap hari Bu Anggraini dihibur oleh petugas medis disana. Salah satu petugas medis disana yang kebetulan orang Indonesia, dia adalah mahasiswi Kairo, mukanya mirip sekali dengan anaknya yang nomor 2. Sehingga, lambat laun Bu Anggraini bisa sedikit menerima keadaan apapun suaminya apabila ditemukan nantinya. Hingga, pada suatu saat polisi militer menemukan jenazah suaminya. Dan, Bu Anggraini adalah satu-satunya perwakilan dari seluruh dunia yang dapat melihat jenazah korban "Lempar Jumroh", dikarenakan amat ketat pengawalan di sana mengenai sebuah Bencana. Saat, Bu Anggraini melihat jenazah suaminya, beliau menangis luar biasa. Hingga, petugas medis menenangkannya. Beliau mengucapkan kata-kata maaf pada suaminya apabila selama dia mengabdi pada suaminya masih belum sempurna. Bu Anggraini pun sudah ikhlas, karena sudah perjanjian awal saat mereka berdua melakukan ibadah Lempar Jumroh, bahkan saat masih di Tanah Air, mereka berdua berniat apapun keadaannya, harus ikhlas, karena mereka akan mendatangi rumah Allah. Akhirnya, anak-anak Bu Anggraini di Tanah Air-pun mengikhlaskan kepergian Papa tercintanya untuk selamanya, dan keluarga bersedia untuk dilakukan pemakaman di Tanah Suci. Sepulang dari Tanah Suci, Kerabat, tetangga tak kunjung hentinya datang bertakziah, hingga selama hampir 4 bulan. Urusan catering untuk Tahlilan pun banyak yang menanggung dari awal. Hingga suatu hari Bu Anggraini bertanya, ini makanan berapa semua harga yang harus saya bayar?Namun, banyak yang menjawab tidak usah dipikirkan masalah biaya. Karena selama ini Bu Anggraini baik pada semua warga. Berita korban "Lempar Jumroh"pun tersebar hingga seantero dunia, sehingga banyak wartawan baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin mewawancarai Bu Anggraini. Namun, pihak pemerintah Indonesia melarang jika wartawan luar negeri untuk meliput, yang diperbolehkan hanya wartawan Dalam Negeri saja. Alhasil, Bu Anggraini menjadi selebritis dadakan. Sebagai ucapan bela sungkawa, Bpk Menteri Agama, memberikan sumbangsih pada keluarga yaitu menaikkan haji ketiga anak Bu Anggraini pada tahun berikutnya. Sungguh, dibalik musibah yang diberikan, Allah masih memberikan seulas senyum pada kita.
Dari, cerita dapat diambil sebuah pelajaran berharga, arti dari sebuah kesetian antara suami istri hingga akhir hayat. Pengabdian seorang istri pada suaminya. Dan dibalik sebuah musibah, pasti akan ada keindahan, apabila kita menerima semua cobaan dengan rasa ikhlas. Semoga, kita semua sebagai umat Islam, umat Nabi Muhammad senantiasa diberikan hati setegar Ibu Siti Islamiyati dan Ibu Anggraini. Dan, selalu senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin...









