Kamis, 27 Juni 2013

This Moment


Subhanallah....
Alhamdulillah...Alhamdulillah...Alhamdulillahirrabbil Alamin....
Hari ini tgl 27 Juni 2013 aku dan teman-teman Fakultas Teknik melaksanakan yudisium ke-44.
Ini merupakan hal yang indah selama perjuangan kami semua belajar di Universitas Bhayangkara Surabaya terutama teruntuk teman-teman Jurusan Informatika Angkatan 2007 dan 2008 yang selama ini kami semua berjuang dengan keras dengan segala tenaga, pikiran, dan mental. Juga dengan segala keluh kesah yang telah kami lalui. Dan, hari ini terbayarkan dengan sebuah acara kecil, namun sangat berarti bagi kami. Sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, hanya ucapan syukur kepada Allah SWT yang selalu..selalu..dan selalu mendengarkan setiap keluh kesah hambamu, permohonan di setiap sujudku, dan tangisan hati ini. 

Sungguh tiada hal yang dapat hamba ungkapkan selain mengungkapkan beribu ucapan hamdallah untukmu Ya Rabbi. Teruntuk Bapak, dan Ibuk yang selalu  mencurahkan doa untuk anakmu, semangat disaat aku putus asa meskipun engkau tidak memberiku ucapan secara langsung, namun dengan sikapmu yang menunjukkan rasa sayang dan perhatianmu selama ini padaku. Terima Kasih buukkk, paakk. Hanya dengan doa di setiap sujudku aku mampu membalas setiap apa yang engkau berikan padaku. Untuk sahabatku, Tiak, Ipeh, Busuku, dan Nyak yang selalu memberikan support padaku disaat aku terpuruk dan putus asa, memberikan aku semangat, serta doa. Sungguh kalian sangat berarti bagiku. Untuk teman-teman seperjuangan angkatan 2007 yang sudah dengan legowo menerima kenyataan, meskipun itu pahit bagi kalian semua, dengan menempuh kuliah selama 6th. Kalian sungguh kakak kelas yang hebat. Semoga kalian kelak dapat menjadi orang yang sukses dengan perjalanan cerita kelam kalian yang dapat kalian ceritakan kepada semua orang bahwa kalian adalah orang yang hebat. Amin. Dan, teman seperjuangan angkatan 2008, kalian sungguh teman-teman yang luar biasa, teman yang hebat. Banyak suka duka yang aku lalui bersama kalian. Semoga pertemanan ini dapat menjadi pertemanan yang abadi untuk kita lalui hingga esok kita masing-masing menjadi orang yang hebat, orang yang sukses. Sehingga silahturahmi kita semua saling terjaga.

Hal ini bukanlah akhir dari sebuah perjuangan kita, namun adalah menjadi titik awal kita untuk meraih cita-cita kita, meraih kesuksesan di masa depan kita masing-masing, dan semoga tali silahturahmi kita selalu terjaga sampai esok-esok hari. Semoga kita semua selalu dilindungi dan diridhoi jalan kita menuju kesuksesan oleh Allah SWT. Amin...

Foto bareng sama teman TI 1

Dengan Dosen terhebatku, yang juga ayahku di kampus

Sahabat terhebatku



yang berbahagia hatinya...



Rabu, 19 Juni 2013

Sebuah Kisah


Kali ini aku akan bercerita tentang cerita orang-orang yang memberikan aku sebuah pelajaran hidup yang sangat berarti.

Suatu ketika, disaat aku mengantarkan ibu cek kesehatannya di sebuah Rumah Sakit Pemerintah di suatu daerah. Menjadi rutinitasku tiap bulan mengantarkan ibu untuk cek kesehatan, karena aku merasa tak tega membiarkan ibuku berada di luar rumah sendirian tanpa yang menemani. Saat di Rumah Sakit itu seperti biasanya banyak sekali orang tua yang seumuran dengan ibu yang juga berobat. Mereka saling bercerita pengalaman masing-masing, bercanda, menceritakan keluh-kesahnya, baik masalah keluarga hingga masalah kesehatannya. Suatu hari ibu berbincang-bincang dengan seorang ibu-ibu, usianya ga jauh beda dengan ibu, namanya Bu Siti Islamiyati. Sungguh cantik namanya, secantik orangnya. Ibu Siti bercerita bahwa dia baru saja ditinggal oleh suaminya. Ya, dia baru saja kehilangan separuh jiwanya yang selama ini menemaninya. Suami Ibu Siti bernama Bpk Imam, sama seperti nama ayahku. (Alm) Bpk Imam meninggal dikarenakan komplikasi penyakit Diabetes Mlitus, dan Ginjal. Beliau sudah dirawat lama sekali di Rumah Sakit Pemerintah di Surabaya, lalu dirawat lagi selama 20 hari di Rumah Sakit Pemerintah di Sidoarjo. Selama beliau sakit, hanya istrinya seorang yang selalu merawatnya. Bahkan, tak lupa mengurus anak-anaknya di rumah. Jadi Ibu Siti bisa dibilang bolak-balik RS-Rumah. Beliau sangat berbakti pada suaminya. Menaati segala perintah suaminya, beliau juga sayang sekali dengan suaminya, menerima segala kondisi yang ada. Di tengah musibah sakit, terkadang pasangan suami istri itu sering juga bercanda. Mereka menganggap semuanya adalah ujian yang harus mereka selesaikan. Hingga pada akhir hayat (Alm) Bpk Imam, Ibu Siti tetap setia pada suaminya. Disaat beliau meninggal, Ibu Siti selalu ada di sampingnya. Bahkan, saat sudah meninggal pun, Ibu Siti senantiasa berdoa untuk suami tercinta, setiap hari bahkan. Terkadang, Ibu Siti datang langsung berziarah di makam suami tercintanya. Ibu Siti menganggap bahwa, meskipun raga suaminya terpisah, namun jiwa mereka tetap bersatu. Terkadang, manusiawi juga Ibu Siti saat di rumah sendiri mengingat setiap kenangan bersama suaminya, sehingga dia-pun menangis. Sungguh, romantis sekali. Seorang istri yang mengabdi pada suaminya hingga akhir hayatnya.Menerima suaminya dalam keadaan apapun.


Masih di tempat yang sama, saat ibu menjalani Test Darah di Laboratorium. Kali ini aku yang mendapatkan kisah dari seorang ibu, bernama Ibu Anggraini. Bu Anggraini adalah sosok ibu yang bisa dibilang ibu-ibu gaul. Beliau sangat ekspresif apabila bercerita, sehingga tidak membuat bosan orang yang ada di sekitarnya. Bu Anggraini orangnya juga sangat mengasikkkan bagiku. Beliau juga seorang janda, dengan 3 orang anak yang sholeh-sholehah. Bu Anggraini ditinggal pergi oleh suaminya saat mereka berdua menjalani ibadah haji pada tahun 2004. Suami Bu Anggraini yang bernama (Alm) Bpk Yos meninggal saat mereka menjalani ibadah lempar jumroh. Diceritakan saat itu, karena saking banyaknya jamaah haji, sehingga pada saat lempar jumroh sangat penuh sekali. Berisi ribuan, bahkan jutaan kaum muslim datang untuk memenuhi panggilan Allah menjalankan Ibadah Haji. Kala itu, Suami Bu Anggraini disaat pertemuan terakhir dengan istrinya berpesan "Ma, kita harus segera menyelesaikan ibadah lempar jumroh ini, meskipun saya mati disini, Saya rela ma", kata (Alm)Bpk Yos. "Iya pah, kita sudah niat, jika memang takdir Allah kita harus mati disini. Saya ikhlas pah", ujar Bu Anggraini. Disaat melakukan lempar jumroh, mereka saling melindungi satu sama lain. Disaat Bu Anggraini melakukan lempar jumroh, suaminya memeluknya dari belakang, begitupun sebaliknya. Saling melindungi satu sama lain. Giliran (Alm) Bpk Yos melakukan lempar jumroh, tiba-tiba serbuan umat dari berbagai negara tak henti-hentinya berdesak-desakan. Sehingga saling menghimpit satu sama lain, dan akhirnya banyak yang jatu, dan terinjak-injak. Saat itu pelukan Bu Anggraini dan suaminya terlepas. Bu Anggraini terlempar hingga 2 meter dari suaminya. Dia tertumpuk oleh banyak mayat-mayat yang sudah terinjak. Karena kuasa Allah, bagian kepala Bu Anggraini tidak ikut tertindih, jadi masih dapat bernapas, meskipun sesak sekali. Saat polisi militer datang mengambil banyak mayat tersebut, Bu Anggraini pun merasa kesusahan, karena beliau tertumpuk banyak mayat. Beliau tidak dapat berbuat banyak, selain pasrah, dan banyak berdoa. Saat polisi militer melintas dia atas kepalanya, Bu Anggraini mencubit kaki polisi itu. Dan, akhirnya polisi itu menyadari bahwa masih ada korban selamat. Dari ribuan korban yang meninggal, hanya ada dua korban selamat, dan juga berasal dari Indonesia. Saat di penampungan Bu Anggraini terus memikirkan nasib suaminya seperti apa, Beliau hanya bisa banyak berdoa dan berharap keajaiban datang. Bisa dikatakn, Bu Anggraini saat itu seperti orang yang agak gila, kerena banyak memikirkan nasib suaminya seperti apa. Hingga, Bpk Menteri Agama, Menteri Keuangan datang menjenguk Bu Anggraini. Bapak pejabat itu pun memberikan pelayanan istimewa pada rakyatnya. Setiap hari Bu Anggraini dihibur oleh petugas medis disana. Salah satu petugas medis disana yang kebetulan orang Indonesia, dia adalah mahasiswi Kairo, mukanya mirip sekali dengan anaknya yang nomor 2. Sehingga, lambat laun Bu Anggraini bisa sedikit menerima keadaan apapun suaminya apabila ditemukan nantinya. Hingga, pada suatu saat polisi militer menemukan jenazah suaminya. Dan, Bu Anggraini adalah satu-satunya perwakilan dari seluruh dunia yang dapat melihat jenazah korban "Lempar Jumroh", dikarenakan amat ketat pengawalan di sana mengenai sebuah Bencana. Saat, Bu Anggraini melihat jenazah suaminya, beliau menangis luar biasa. Hingga, petugas medis menenangkannya. Beliau mengucapkan kata-kata maaf pada suaminya apabila selama dia mengabdi pada suaminya masih belum sempurna. Bu Anggraini pun sudah ikhlas, karena sudah perjanjian awal saat mereka berdua melakukan ibadah Lempar Jumroh, bahkan saat masih di Tanah Air, mereka berdua berniat apapun keadaannya, harus ikhlas, karena mereka akan mendatangi rumah Allah. Akhirnya, anak-anak Bu Anggraini di Tanah Air-pun mengikhlaskan kepergian Papa tercintanya untuk selamanya, dan keluarga bersedia untuk dilakukan pemakaman di Tanah Suci. Sepulang dari Tanah Suci, Kerabat, tetangga tak kunjung hentinya datang bertakziah, hingga selama hampir 4 bulan. Urusan catering untuk Tahlilan pun banyak yang menanggung dari awal. Hingga suatu hari Bu Anggraini bertanya, ini makanan berapa semua harga yang harus saya bayar?Namun, banyak yang menjawab tidak usah dipikirkan masalah biaya. Karena selama ini Bu Anggraini baik pada semua warga. Berita korban "Lempar Jumroh"pun tersebar hingga seantero dunia, sehingga banyak wartawan baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin mewawancarai Bu Anggraini. Namun, pihak pemerintah Indonesia melarang jika wartawan luar negeri untuk meliput, yang diperbolehkan hanya wartawan Dalam Negeri saja. Alhasil, Bu Anggraini menjadi selebritis dadakan. Sebagai ucapan bela sungkawa, Bpk Menteri Agama, memberikan sumbangsih pada keluarga yaitu menaikkan haji ketiga anak Bu Anggraini pada tahun berikutnya. Sungguh, dibalik musibah yang diberikan, Allah masih memberikan seulas senyum pada kita.

Dari, cerita dapat diambil sebuah pelajaran berharga, arti dari sebuah kesetian antara suami istri hingga akhir hayat. Pengabdian seorang istri pada suaminya. Dan dibalik sebuah musibah, pasti akan ada keindahan, apabila kita menerima semua cobaan dengan rasa ikhlas. Semoga, kita semua sebagai umat Islam, umat Nabi Muhammad senantiasa diberikan hati setegar Ibu Siti Islamiyati dan Ibu Anggraini. Dan, selalu senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin...



Kamis, 13 Juni 2013

Kangen kaliaaannn....


Kangeeennn....
Lama banget ya ga kumpul bareng, lengkap, komplit kaya gini lagi. Di tengah kesibukan masing-masing saat ini. Kangen ketawa bareng, kangen curhat-curhatan, kangen saling olok-olokan. Pokoknya kangeenn deh smuanya. Seingatku pas kita kumpul komplit kaya gini waktu acara Girls Party d'rumah Tyak. Bikin Rujak Manis. Inget ga...

Bahan-bahan Rujak Manisnya joinan, alhasil jadi banyak

Ya..Ini pas kita ngrencanain bikin Rujak Manis di rumah Tyak. Padahal sebelumnya ga d'rencanain jauh-jauh hari. Langsung asal cap cus gitu deh. Masih inget Q, bahan-bahannya smuanya joinan, mule dari buah-buahannya sampe kerupuk , tahu, dll, alhasil jadinya sebaskom penuh nie rujak. Sampe kepedesan, keringet pada kluar smua.hehe...Ihhh...pengen kaya gini lagi. Ngangenin, meskipun acara simple, tapi berarti banget.
Narsis dulu sambil ngerujak
Dasar sifat cewek, meskipun lagi ngapaen tetep aja kalo liat kamera langsung Narsis.hehehe....Ya ampuun..kapan ya bisa kumpul kaya gini lagi. Kangeeenn Nyak, Ipeh, Tyak, Busuk. Kangen kita ketawa bareng, saling ngolok-ngolokin, meskipun itu ga bneran. Kangen becanda ama kalian, kangen narsis bareng, kangen ngeMall bareng, meskipun ga beli apa-apa. Kangen wisata kuliner, meskipun itu sebulan sekali, abisnya kantong mahasiswa sih.Tapi, sekarang sibuk dengan urusan masing-masing. :( 
Ini pas foto studio, tapi ga ama Tyak

Ini waktu ngeMall saat suntuk, tapi ga ama Nyak

Narsis depan Fakultas, saat usai sidang TA


Klop deh kalo ngumpul

Nyak ama Ipeh

Terkadang juga kita kumpul, meskipun ga komplit. Yaa..nyamain waktu masing-masing juga susah. Tapi, ga apa yang penting kumpul. Tapi, juga ga seru kalo ga komplit. Kapan yaa kita bisa kumpul bareng. Miss u Nyaakk, yang selalu kasih petuah-petuah positif buat kita, Miss u Ipeh, yang selalu kangen ama kata-kata pedesmu, mskipun itu hanya bercandaan aja.hehehe..Miss u Tyak and Busuk, yang selalu klop deh kalo bercanda ampe perut sakit banget soalnya ketawa mulu, kangen olok-olokan kalian. Kangen deh ama semuanyaa...

Senin, 10 Juni 2013

The Power of Change


Kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanaku sebagai "Job Hunter" selama 2 bulan lebih 1 minggu terakhir ini. Yeah...kenapa aku ingin bercerita mengenai ini, karena banyak pelajaran berharga yang dapat aku petik dari pengalamanku  sebagai "Job Hunter" atau pencari kerja.

Awal pertama, aku merasa sangat Percaya Diri saat aku masih menduduki bangku perkuliahan, merasa bahwa pekerjaan itu mudah dicari dan didapatkan, karena yang banyak dicari adalah lulusan Sarjana. hehehe, mungkin agak sedikit sombong. Yah, itu adalah pemikiranku hanya jangka pendek saja, entah dulu aku belum banyak tau tentang dunia luar seperti apa, yang aku tahu adalah hanya Dunia Perkuliahan saja.

Dan, usai perkuliahan, dan dinyatakan lulus walaupun masih menunggu ijazah keluar, yang aku rasakan saat ini sungguh berbalik rasanya. Pekerjaan memang banyak sekali, mudah untuk dicari, namun untuk didapatkan, butuh perjuangan keras, usaha, doa, dan kesabaran tingkat dewa.hahaha...agak Lebay dikit bolehlah. Banyak sekali lowongan pekerjaan yang dipampang baik di Internet, Media Sosial, ataupun langsung di depan pagar perusahaan. Untuk mendapatkan satu saja pekerjaan dari sekian banyak, amat sangat butuh banyak perjuangan. Sudah hampir lebih dari 100 perusahaan yang sudah aku lamar. Ada banyak juga panggilan interview, maupun test tulis, test komputer, dan psikotest. Ada juga yang mengajak bergabung dengan perusahaan itu, namun ada juga kendala yang harus dipikirkan matang-matang, mulai dari persyaratan Ijazah ditahan perusahaan, jabatan yang tidak aku sukai, perusahaan yang tidak nyaman bagiku.
Entah mengapa, selain kenyamanan yang aku butuhkan dalam pekerjaan, saran dari kedua orang tua juga sangat aku butuhkan. Terkadang aku berpikir, mengapa begitu sulit mendapatkan pekerjaan, padahal apabila melihat banyak temanku cepat sekali mendapatkan pekerjaan, ataukah aku yang terlalu pemilih dalam mendapatkan peluang bekerja. Banyak sekali tanda tanya dalam benakku ini. Se

Sebenarnya aku simple saja dalam mendapatkan pekerjaan, ga perlu di perusahaan bonafide, cukup nyaman, sreg di hatiku dan dapat ridho dari kedua orang tua. Itu saja. Namun, terkadang ada yang mencibir, "Haruskan saran dari orang tua, emang orang tuamu yang mau bekerja, emang kamu ga bisa berdiri sendiri, kamu kan sudah dewasa dalam memilih apa yang baik untukmu?".Aku akui pertanyaan itu tidak salah ditujukan kepadaku, namun entah mengapa bagiku disetiap jalan, usahaku harus ada restu orang tua, apabila orang tua merestui. InsyaAllah jalannya akan lancar. Itu sudah menjadi statementku dari awal. Terserah orang mau bilang apa, aku menerimanya sebagai masukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Banyak juga pengalaman yang aku dapatkan saat mencari dan mendapatkan pekerjaan. Pengalaman berbicara, beretika dengan orang lain, bernegosiasi, menemui banyak orang baru, mendapatkan pelajaran berinteraksi dengan orang yang mempunyai jabatan tinggi di sebuah perusahaan. Pokoknya banyak banget deh...Hingga saat ini aku masih berusaha keras, berdoa, dan tetap bersabar dalam mendapatkan pekerjaan. Ini adalah langkah awalku dalam mendapatkan kunci kesuksesan. Aku ingin melihat kedua orang tuaku bangga padaku. Awalnya aku menjadi sorang "Job Hunter" dan pada akhirnya InsyaAllah aku pasti bisa menjadi "Bussines Woman". Aku berjanji esok pasti aku akan menjadi sosok yang wanita sukses dalam berkarir, berkeluarga, mendidik anak-anakku kelak, menyayangi suamiku. InsyaAllah pasti akan aku wujudkan. Aku harus merubah nasibku kini menjadi sosok yang lebih baik untuk masa depanku, keluarga, dan untuk agamaku. Amin, Ya Rabbal Alamin....

yang selalu optimis


Template by:

Free Blog Templates